Sasuke's Mangekyō Sharingan

Kamis, 06 April 2017

Debat Sertifikasi Ulama

Debat merupakan kegiatan adu argumentasi, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.Pada debat kali ini akan membahas tentang sertifikasi ulama. Sertifikasi ulama adalah surat keterangan tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan yang diberikan kepada ulama untuk digunakan menyampaikan materi-materi mereka di depan umum.
Yang menyampaikan argumennya yang pertama adalah dari tim pro kontra yaitu sertifikasi ulama itu sangat perlu, mengapa demikian, disebabkan karena begitu kita menyaksikan kondisi sekarang, lebih-lebih dari keberagamaan di negeri ini, begitu mudahnya orang melabeli dirinya sebagai ulama. Anehnya, meraka tidak canggung mengaku sebagai ulama, padahal ilmu dan perilakunya masih jauh dari kata sempurna. Seakan, masyarakat kita begitu mudah menerima orang lain sebagai ulama ketika orang itu hanya cukup mengeluarkan satu atau dua ayat al-Quran dan hadis dalam pembicarannya.
            Di negara kita yang penduduknya mayoritas muslim, memang belum jelas betul siapa yang boleh dan layak diberi predikat ulama. Soalnya orang yang pandai bicara dan menghapal sejumlah ayat sudah bisa tampil sebagai ulama. Mereka mengajarkan Islam dengan pengetahuan keislaman yang dangkal atau bahkan dengan pemahaman yang salah kepada masyarakat luas. Selama ini semua orang dengan kualifikasi demikian bisa diberi predikat ulama. Soalnya di negara kita belum ada ketentuan perundangan tentang ulama, termasuk belum adanya lembaga sertifikasi ulama.
            Bukan berarti tdak mempercayai ulama, namun, jika adanya sertifikasi ulama maka, sudah tidak ada lagi ulama yang karbitan, coba deh, kita bayangkan bilamana nntinya sertifikasi ulama tdak diberlakukan pasti yakin dan percaya banyak orang yang mengaku dirinya sebagai ulama namun ternyata, dia itu belum memiliki ilmu yang tinggi dan maukah kita mendengarkannya atau mengikuti ajarannya, yah, sudah pasti kita menginginkan pendapat yang jelas bukan.
            Apakah seseorang yang menjadi khatib tetap di sebuah masjid kampung sudah dapat disebut ulama juga. Membaca bacaan arab saja masih belepotan, dan materi khobahnya selalu hanya mengenai shalat. Ia diangkat menjadi khatib tetap karena masjid itu dibangun sebagian besarnya dengan sedekah dan infak dari kekayaannya. Sampai mati, ia tidak boleh digantikan.
            Sesudah argumen dari tim pro selanjutnya saya akan membahas argumen dari tim kontra yaitu ."Bahasanya ini saja dengan pernyataan tidak percaya dengan ulama. Kan ulama kalau membawakan dakwah Jumat berdasarkan ayat-ayat suci Alquran".
            Pada dasarnya kita sedang membicarakan sertifikasi ulama, yakni pantaskah ulama untuk diberi sertifikat ? sesuai dengan yang saya tangkap, anda membicarakan orang yang mengaku ulama, namun bukan ulama, sekali lagi kita sedang membahas Pantaskah seorang yang betul-betul ULAMA untuk diberi sertifikat? Lalu namun siapa yang mampu memberikan sertifikat kepada para utusan ilmu Allah ? anda menggolongkan para ulama, anda sama saja melakukan disintegrasi bangsa.
            Dengan adanya sertifikasi Ulama sama saja menjauhkan para ulama dari sifat ulama yang sebenarnya, mengapa saya mengatakan demikian ? Al-Mawardi, dalam kitabnya, Adab ad-Dunya wa ad-Din, menyatakan bahwa akhlak ulama’ adalah tawadhu’,“Akhlak yang wajib dimiliki oleh ulama’ adalah tawadhu’, dan menjauhi ujub (membanggakan diri). Karena tawadhu’ membuat orang tertarik, sedangkan ujub membuat orang lari. Ujub bagi siapapun jelas buruk, terlebih jika ujub tersebut ada pada ulama’.” (Lihat, Al-Mawardi, Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal. 51).
            Seluruh ulama di madura kompak menolak sertifikasi karena dinilai membatasi ruang gerak khatib/ulama.Niat pemerintah untuk mengatur ulama memang baik, tapi dengan label sertifikasi dikhawatirkan bisa saja seorang khatib tidak bisa hadir. Akhirnya jemaah pindah ke masjid lainnya yang ulamanya.
            Dengan berakhirnya penyampaian pendapat dari masing-masing tim saya dapat menyimpulkan bahwa serfikasi ulama itu sangat diperlukan bagi para ulama karena banyaknya orang-orang di Indonesia yang mengaku sebagai ulama padahal mereka tidak dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan memahami makna ayat suci Al-Qur’an tersebut.Apakah itu layak untuk menjadi ulama? Tentu saja tidak, maka dari itu sangat diperlukan sertifikasi ulama.
            Setelah berakhirnya debat ini saya sebagai salah satu dari peserta debat ini sangat berterima kasih kepada teman teman sekalian yang ikut pada debat kali ini karena berkat debat ini saya menerima banyak ilmu tentang sertifiksi ulama dan saya menjadi terdorong untuk memberikan apresisasi kepada ulama yang ada di Indonesia. Mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





Senin, 28 November 2016

Menulis Ikhtisar Buku

1.Jelaskan pengertian Ikhtisar ?
  Ikhtisar menurut (summary) sekurang-kurangnya ikhtisar dalam hubungan dengan laporan, merupakan suatu bagian dari tulisan yang menyampaikan suatu informasi yang pening dari sebuah laporan dalam bentuk yang sangat singkat walaupun bentuk ikhtisar itu sangat singkat, namun tidak sesingkat abstrak bila abstrak hanya menyampaikan aspek-aspek mana saja yang dikemukakan dalam laporan, maka ikhtisar memasukan pula informasi mengenai aspek-aspek itu bila perbedaan abstrak dan ikhtisar ditinjau daru unsur-unsur pembentukan tema, maka abbstrak hanya mengandung topik persoalan, sedangkan ikhtisar mengandung topik persoalan dan tujuan yang akan dicapai melalui topic tadi.
Jadi intinya ikhtisar adalah suatu bagian dari tulisan yang menyampaikan suatu informasi yang penting dari sebuah tulisan dalam bentuk yang sangat singkat.
Ikhtisar menurut Juhala (2003) adalah penulisan pokok-pokok masalah penulisannya tidak harus berurutan, boleh secara acak atau disajikan dalam bahan pembuat ikhtisar tanpa mengubah tema sebuah wacana.

2.Apa perbedaan ikhtisar dan ringkasan?
  Iktisar adalah sama dengan ringkaan hanya ringkasan harus berurutan sesuai dengan urutan kerangka aslinya sementara ikhtisar tidak perlu berurutan sesuai dengan urutan karangan aslinya, disamping itu iktisar tidak perlu mencakup keseluruhan.


3.Jelaskan bagian-bagian iktisar dan karakteristiknya?
Ikhtisar adalah rangkuman gagasan yang dianggap penting oleh penyusun ikhtisar yang digali dari sebuah teks, penyusunan ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok permasalahan yang berkatian dengan kepentingan atau perhatiannya, hal pokok yang membedakan ikhtisar dari rangkuman adalah sebagai berikut:
1. Dalam ikhtisar urutan dari teks asli tidak perlu dipertahankan
2. Ikhtisar tidak akan memberikan isi keseluruhan dari karangan asli secara praoprasional.
3. Bab-bab atau bagian dari teks asli yang dianggap kurang penting oleh penyusun ikhtisar dapat diabaikan.


4.Sebutkan ciri-ciri ikhtisar?
1. Merupakan tulisan baru yang mengandung sebagian gagasan dari teks.
2. Tidak mengandung hal baru, pikiran atau opini penyusn ikhisar, baik yang dimaksudkan secara sadar maupun tidak sadar.
3. Menggunakan kata-kata dari pengusun sendiri.

Bagaimana menyusun ikhtisar yang baik?
a. Menetapkan tujuan membaca gagasan apa yang saya butuhkan
b. Membaca dengan cermat apa relevasi gagasan yang saya perlukan itu dalam konteks tulisan saya ini?
c. Mencatat gagasan yang penting dari sudut pandang penyusunan ikhtisar dengan kata-kata sendiri.
d. Menyusun kerangka tulisan.
e. Menulis ikhtisar.
f. Mengecek kembali tulisan asli untuk meyakinkan bentuk semua gagasan yang penting telah terjadi.
g. Mengoreksi kesalahan bahasa dan kesalahan cetak.

5.Apa fungsi ikhtisar?
Ikhtisar berfungsi sebagai garis-garis besar masalah dalam sebuah wacana yang berukuran pendek atau sedang. Persamaan ringkasan dan ikhtisar adalah keduanya merupakan penyajian singkat suatu kerangka adapun perbedaannya adalah:
1. Ringkasan adalah penyajian singkat suatu karangan asli dengan tetap mempertahankan urutan isi. Sudut pandang, pengarang dan perbandingan antara bagian secara praoperasional.
2. Ikhtisar adalah penyajan singkat suatu karangan asli dengan tidak lagi mempertahankan karangan aslinya, tidak mempertahankan karangan aslinya, tidak mempertahankan sudut pandang pengarang aslinya dan tidak mempertahankan perbandingannya antara bagian secara profesional. Ikhtisar lebih memberikan penekanan hal yang penting, sedangkan hal yang penting diabaikan.

6.Bagaimana cara membuat ikhtisar?
1. Membaca naskah asli
Langkah pertama dalam perbuatan ikhtisar adalah membaca naskah asli satu atau dua ali untuk mengetahui kesan umum dan maksud pedagang serta sudut pandangnya.
 2. Mencatat gagasan utama
Setelah penulis menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandang pengarang asli, maka langkah selanjutnya mencatat semua gagasan utama atau gagasan yang penting.
3. Menulis ikhtisar
Yang menjadi dasar sinopsis itu adalah ringkasan dan abstrak cara membuat sinopsis adalah sebagai berikut:
a. Membaca naskah asli telebih dahulu untuk mengetahui kesan umum penulis
b. Mencatat gagasan utama dengan menggaris bawahi gagasan yang penting.
c. Menulis ringkasan cerdaskan gagasan-gagasan utama sebagaimana dicatat pada langkah kedua, gunakanlah kalimat yang padat, efektif, dan menarik untuk merangkai jalan cerita menjadi sebuah karangan singkat yang menggambarkan karangan asli.
d. Dialog dan monolog tokoh ditulis isi/garis besarnya saja.
e. Sinopsis tidak boleh menyimpang dari jalan cerita dan isi dari keseluruhan karya yang asli.

7.Apa manfaat dan tujuan teks ikhtisar?
Tujuan atau manfaat membuat suatu lingkungan adalah untuk memahami dan mengetahui isi dari sebuah buku atau karangan, juga berguna untuk mengembangkan ekspresi serta pengehematan kata penulis harus dapat membedakan gagasan utama dan gagasan-gagasan tambahan karena dapat membantu penulis dalam mempertajam gaya bahasa serta menghindari uraian-uraian yang panjang lebar. Ikhtiar dibuat untuk membantu pebaca buku memahami buku yang panjang ikhtisar mmbantu pembaca buku untuk membaca hal itu dalam waktu yang singkat dengan cara yang menghemat waktu.

Minggu, 13 November 2016

Hikayat Bunga Kemuning

               Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.
            Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona, Puteri Kuning dan 2 puteri lainnya. Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.
Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.
Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.
Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.
"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.
Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.
Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncu. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.
Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.
Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.
Analisis Unsur Kebahasan Hikayat Bunga Kemuning
Masa lampau : Dahulu kala
Sindiran : "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!"
Humor : " Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"
Konjungsi : "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!"
STRUKTUR TEKS ANEKDOT
Alur/plot         : Alur Maju
                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.
Tema              : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                  ayahnya.
Latar/setting  :
1.    Latar tempat :
Kerajaan (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)
Taman (bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)
Danau (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)
Teras istana (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)
2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala
3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)
Tokoh:
1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning
2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.
Karaker tokoh-tokoh
1.      Raja :
Bijaksana (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)
Penyayang (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)
2.      Putri kuning :
Baik hati (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)
Penyabar (bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.) 
Ramah (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)
3.      Puteri Hijau         : Jahat,  mudah iri (bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)
4.      Kakak-kakak putri kuning : Nakal, manja, jahat. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).
Sudut Pandang          : Orang Pertama dan orang ketiga.

Amanat :
-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita
-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak

Kamis, 03 November 2016

Memaknai Teks Anekdot



Di sebuah desa kecil. Banyak orang kehilangan ayam. Setiap malam mereka selalu berjaga untuk menangkap pencuri ayam. Tapi suatu hari, ada warga yang melihat tetangganya sedang mengurung ayam miliknya.
Pemilik ayam : Kau pencuri, ya?
Tetangga : Aku tidak mencuri ayammu. Ayammu yang datang kepadaku. Ayammu selalu buang kotoran di teras saya. Ayam siapa pun yang mengganggu kenyamananku, pasti akan saya kurung dan kujual.
Pemilik ayam: Padahal, saya sudah peringatkan kepada ayam-ayamku, jangan buang kotoran di teras tetangga kita. Bertelorlah di sana, pasti tetangga kita akan senang. Tapi ayam-ayamku tidak ada yang mau mendengar. Ternyata ayamku hilang ditangkap oleh serigala berbulu domba. Saya kira dicuri maling.
Makna 1 : Tetangga itu menyembunyikan dan menjual setiap ayam yang masuk ke halamannya.
Makna 2 : Tetangga yang selama ini dikenalnya baik tetapi ternyata jahat.
Makna 3 : Kelihatannya orang baik-baik tetapi memiliki perangai yang buruk

disusun oleh :
1. Alika Nurul Hidayah
2. Anugerah Munandar
3. Muhammad Yusril Hidayatullah
4. Rafli Fathur Rachman

Struktur Teks Anekdot




Pencuri Sendal
Pada suatu siang yang panas, Bejo sedang asik memakan soto dengan lahap mangkuk demi mangkuk, sehingga kalau diibaratkan obat, Bejo telah overdosis.
Sesudah kenyang, Bejo bergegas pulang dengan perut buncit. Ditengah jalan Bejo mengalami kecelakaan, untungnya Bejo tidak apa-apa, namun apesnya, kecelakaan itu memakan korban yaitu sendal Bejo.
Dengan terpaksa Bejo berjalan tanpa alas kaki. Deritanya bertambah karena rumahnya masih jauh. Akhirnya Bejo memilih pergi untuk membeli sendal, namun apa daya, uangnya tinggal 500 rupiah.
Mendadak Bejo mempunyai ide. Ia berniat untuk mencuri sendal, ternyata rencananya berjalan mulus, ia mendapat sendal berwarna ungu. Bejo bergaya seolah pemilik sendal itu.
Tidak diduga pemilik aslinya sadar bahwa Bejo mencuri sendalnya, "Woy, maling, maling sendal!" Teriak pemilik sendal tersebut. Seperti ibu-ibu mengejar diskon akhir tahun, pemilik sendal tersebut berlari mengejar Bejo. Apesnya Bejo, perutnya yang buncit membuatnya mudah tertangkap.
Tidak diduga, pemilik sendal tersebut melaporkan tindakan Bejo ke polisi.

Bagian-bagian struktur teks diatas (Pencuri Sendal) adalah :

  1. Abstraksi : Pada suatu siang yang panas
  2. Orientasi : Bejo sedang asik memakan soto dengan lahap mangkuk demi mangkuk, sehingga kalau diibaratkan obat, Bejo telah overdosis.
  3. Krisis : Ditengah jalan Bejo mengalami kecelakaan, kecelakaan itu memakan korban yaitu sendal Bejo. Mendadak Bejo mempunyai ide. Ia berniat untuk mencuri sendal
  4. Reaksi : Tidak diduga pemilik aslinya sadar bahwa Bejo mencuri sendalnya
  5. Koda : Pemilik sendal tersebut melaporkan tindakan Bejo ke polisi.

Kaidah Cerita Anekdot

.  1.   Menggunakan waktu lampau ; contohnya : setelah kekenyangan
   2.  Menggunakan Pertanyaan rotoris; contohnya : apa yang kamu curi itu sandal?
   3.   Menggunakan kata penghubung atau kongjungsi, contohnya : Tidak diduga 
  4. Menggunakan kata kerja, contohnya : mencuri, memakan, membeli, pergi, bergegas, berteriak, mengejar, melaporkan.